Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Bukan Karena Pangkat dan Uang 2 Raja-Raja 5:5 Renungan Harian

Kemudian kembalilah ia dengan seluruh pasukannya kepada abdi Allah itu. Setelah sampai, tampillah ia ke depan Elisa dan berkata: "Sekarang aku tahu, bahwa di seluruh bumi tidak ada Allah kecuali di Israel. Karena itu terimalah kiranya suatu pemberian dari hambamu ini” 2 Raja-Raja 5:5
Bukan Karena Pangkat dan Uang 2 Raja-Raja 5:5 Renungan Harian


Menolong seseorang dengan melihat pangkat atau kekayaan orang yang ditolong adalah hal yang sering terjadi di banyak instansi pemerintah. Kalau yang datang ke kantor seorang yang miskin dan tidak berpangkat, petugas piket biasanya menyuruh orang itu menunggu. Tetapi kalau orang yang datang itu naik mobil dinas, berpakaian safari dan perut sedikit gendut, petugas piket akan lari pontang-panting untuk membuka pintu mobil. Dia akan bergerak cepat mengurus keperluan tamu itu. Kalau tamu itu ingin bertemu kepala dinas, ia akan mengatar sampai ke pintu. Kebaikan seperti ini jangan harap akan dia tunjukkan kepada orang kecil dan tak berpangkat yang ingin bertemu bosnya. Di dunia kita berlaku ketentuan: untuk mendapat pelayanan dengan cepat dan terhormat seseorang harus menunjukkan diri sebagai yang berpangkat dan punya kuasa. Kalau anda tidak punya koneksi dengan orang-orang yang punya kedudukan dan nama, jangan harap urusan-urusan anda di instansi-instansi pemerintah atau swasta bisa selesai dalam satu hari. Anda harus tunggu, dipersulit dulu, harus pakai pelicin.

Naaman tidak mau menunggu lama. Dia tidak suka mengikuti prosedur administrasi yang berbelit-belit. Ia mau begitu tiba di Israel, raja negeri itu segera bertindak menolong dia dan menyembuhkan penyakit kustanya. Naaman enggan melakukan prinsip-prinsip dasar dalam ibadah pada Tuhan: seperti menyangkal diri, memikul salib dan mengikut Tuhan. Ia mau yang praktis saja: datang pada Allah, memberi persembahan dalam jumlah besar supaya Allah menjawab doanya. Ia juga meminta raja Aram memberikan surat kuasa, semacam katabelece kepadanya untuk ditunjukkan kepada raja Israel, maksudnya untuk menakuit-nakuti raja Israel dan Tuhan Allah. Dia utusan resmi dari raja karena itu harus diperlakukan istimewa oleh nabi. Setelah mengantongi surat sakti itu, Naaman masih membekali diri dengan sejumlah besar barang berharga. Sepuluh talenta perak. Itu kira-kira 1 Miliar rupiah ditambah 40 kg emas dan sepuluh potong pakaian. Luar biasa barang-barang yang dibawa Naaman dari Damaskus. Mungkin saya Naaman berpikir, kalau raja Israel tidak percaya pada surat perintah yang ia bawa, ia pasti akan menolong saya setelah melihat barang-barang yang saya berikan kepadanya. Naaman berbuat persis seperti yang selalu kita lakukan saat ini. Ia pakai pelicin. Ia ingin membeli kesembuhan dari Allah Israel.

Membeli pertolongan Allah. Ini kebiasaan orang-orang kafir. Berhala-berhala memang suka jual mahal. Mereka senang memeras dan menuntut banyak dari para penyembah. Jika anda sudah mengorbankan semua yang anda punya, pertolongan dari mereka masih tetap saja anda tunggu. Barangsiapa tidak mengenal Allah yang hidup, dia terjepit dalam perbudakan materialisme. Dia hanya akan menolong atau melayani orang lain jika orang yang ditolong dapat membuktikan bahwa dia mampu membayar pertolongan yang ia terima. Di Gereja praktek seperti ini masih sering kita jumpai. Membujuk Allah yang hidup dengan kekayaan? Sungguh satu kebodohan. Semua yang Allah berikan bagi kita mengalir dari kasih yang tidak bersyarat. Allah tidak pernah pilih muka dalam membagi-bagikan kasih dan kemurahan-Nya. Ia menurut Matius 5:45 adalah Bapa yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang benar dan orang yang tidak benar. Kita menerima sesuatu dari Dia bukan karena pangkat, nama besar, kuasa atau kekayaan yang kita miliki.

Naaman datang ke Israel dengan satu rombongan pasukan beserta sejumlah besar kekayaan. Ia punya satu tujuan: membeli kesembuhan dari Allah Israel. Pangkat dan kekayaan ia pakai untuk membujuk Allah. Mempengaruhi keputusan dengan menonjolkan kekuasaan dan harta benda masih sering kita lakukan juga pada masa kini, masa di mana orang dituntut mengunakan akal dan persaingan yang sehat. Saya kira semua kita tahu banyak tentang hal ini. Meskipun begitu, saya ingin bercerita tentang Eti[1] sekedar untuk menunjukkan bahwa kebiasaan jelek tadi membusukkan bukan hanya soal-soal besar, tetapi juga sampai kepada hal-hal sederhana.

Cerita tentang Eti dimulai dengan keputusan Pemerintah Daerah (pemda) untuk mengembangkan potensi-potensi seni yang dimiliki karyawan kantor Gubernur. Istri gubernur menindak-lanjuti dengan membuat pagelaran seni budaya. Salah satu kegiatannya adalah lomba paduan suara. Ibu gubernur mengumpulkan semua karyawan pemda dan para istri. Sugeng, seorang pakar seni suara di kota itu dikontrak untuk melatih paduan suara itu. Sugeng bersemangat sekali dengan tugas baru ini, apalagi setelah dia tahu besarnya insentif yang bakal dia terima Rp. 2.000.000 per bulan. Waauuu. Ini belum terhitung uang transport tetap dan bonus yang akan diterima.

Program latihan dimulai dengan seleksi anggota. Sugeng bekerja keras. Dari hasil seleksi diperoleh 60 anggota paduan suara yang amat potensial. Pangkat mereka bervariasi. Ada yang hanya pesuruh ada pula yang kepala kandep, tetapi vokal mereka sama. Bahkan yang pesuruh punya vokal yang lebih aduhai dari yang kepala kandep. Sugeng puas dengan hasil seleksi itu. Latihan mulai berjalan. Baru dua minggu, datang ibu gubernur. Ia menyarankan sugeng untuk mengurangi jumlah anggota paduan suara. Enam puluh orang dianggap terlalu banyak. Sebaiknya 40 orang. Kata ibu gubernur. Sugeng setuju-setuju saja. “Sebaiknya memang begitu, bu gubernur. Saya akan mengeluarkan anggota-anggota yang vokalnya pas-pasan. Orang-orang dengan vokal terbaik yang akan saya pertahankan,” kata Sugeng.

Ibu gubernur lalu memberi saran. Pak Yadi sebaiknya dikeluarkan saja. Dia kan pesuruh kantor, bahkan masih honorer. “Vokalnya memang lumayan, tetapi setelah seharian bekerja secara fisik, apa masih punya sisa tenaga untuk tarik suara?” Begitulah ibu gubernur beralasan. Orang lain yang perlu disingkirkan adalah Umi. Soprannya aduhai, tetapi ia istri juru ketik yang baru bergolongan I-a. Rasanya tidak seimbang jika dia berdiri berdampingan dengan ibu Kun yang suaminya adalah kepala bagian di tempat kerja suami Umi. Pak Krisno yang mendapat nilai rendah dari Sugeng waktu seleksi justru disarankan ibu gubernur untuk masuk daftar peserta. Alasannya, dia bendahara pemda. Jadi kalau ada urusan apa-apa bisa lancar. Begitu juga ibu Monda kepala bagian humas. Dia pernah ikut bintang radio. Termasuk 10 besar dari sepuluh peserta.

Sugeng binggung. Proses perampingan didasarkan atas pertimbangan-pertimbangan jabatan, status, pangkat, pengaruh, maupun hubungan kekerabatan. Sugeng sampai tidak percaya pada hasil akhirnya. Jumlah peserta Paduan suara bukannya berkurang tetapi membengkak menjadi 80 orang. Yah! Sugeng coba bertahan. Dalam hati dia berjanji, tidak akan terima tugas yang sama tahun berikutnya.

Latihan mulai diintensifkan. Satu minggu sebelum pagelaran datang ibu gubernur dengan saran baru berhubungan dengan solois ketika paduan suara membawakan lagu Hamba Menyanyi.

“Bagiamana Dik Sugeng, dalam lagu Hamba menyanyi ada solonya, kan?

“Ya, Bu.”

“Sudah ditentukan solois-nya siapa?”

“Baru saya seleksi.”

“Tidak makan waktu terlalu lama? Nanti tidak keburu, lho.”

“Sudah ada beberapa calon.”

“Kalau begitu biar si Eti sajalah.”

“Eti yang... banyak bekas jerawatnya?”

“Iya, Eti anak saya.”

Sugeng bingung. Selama ini Eti dia kenal sebagai anggota yang “lebih pantas menjadi pemain sepak bola saja daripada menyanyi”. Kualitas vokalnya di bawah standar, kecantikannya pun pas-pas. Kalau distimulir secara khusus sebenarnya dia bisa bersuara lantang, tapi nada dasarnya selalu menyimpang dari intro. Kalau ditunjuk jadi solois, justru akan merusak seluruh penampilan paduan suara. Tapi ternyata anggota yang satu ini adalah putri ibu gubernur. Telah ditentukan harus jadi solis pula. Sugeng tidak tahu lagi harus buat apa. Akhirnya dia memutuskan untuk jalan terus.

Menit-menit terakhir menjelang pagelaran Sugeng tak bisa bertahan lagi. Perutnya mual. Kepalanya pusing. Waktu paduan suara pemda tampil dipanggung, ia bersembunyi di kamar kecil. Samar-samar terdengar alunan lagu pertama... lagu kedua... Dan begitu masuk lagu Hamba Menyanyi, buru-buru ia menutup telinganya, takut untuk mendengar lengkingan Eti. Tapi celaka! Suara dari panggung itu tetap saja bergaung. Lebih-lebih gemuruh teriakan yang membahana itu! Pastilah pekik kekecewaan! Pastilah kegaduhan! Pastilah pelecehan!

Tetapi bukan... ternyata suara tepuk-tangan! Gemuruh seruan pujian. Begitu meriahnya. Ya, suara tepuk tangan yang terdengar seusai Eti menyanyi. Mimpikah ini? Halusinasikan? Bukan. Yang Sugeng dengar adalah kenyataan yang senyata-nyatanya.

Sugeng lari ke tempat pertunjukan. Melongok ke arah penonton. Ya! Mereka benar-benar berdiri memberi tepuk tangan! Sementara di panggung sana Eti dan anggota paduan suara yang lain berkali-kali membungkukkan badan. Sugeng merapatkan bibirnya ke telinga seorang pegawai pemda. “Bagus ya, Pak, paduan suaranya?”

“Yah, bagus ngak bagus kita tepuk tangan sajalah. Anak pak gubernur yang menyanyi, masa kita tariaki suruh turun.” Sugeng tersentak. Ia mengerti sekarang. Apa yang tidak normal harus dianggap normal jika yang memutuskan hal itu adalah orang berpangkat, punya kuasa dan besar pengaruhnya. Pangkat dan kuasa adalah segala-galanya.

Mempengaruhi keputusan dengan menunjukkan kuasa, pangkat, jabatan, pengaruh dan kekayaan adalah kebiasaan yang dianggap normal dalam masyarakat. Naaman datang dari Siria ke Israel dengan pikiran yang sama. Ia bermaksud membeli keputusan Allah dengan katabelece dari raja Aram dan sejumlah besar harta yang dia bawa. Adalah pantas jika raja Israel menyambut kedatangan mereka secara istimewa. Orang besar harus disambut besar-besaran. Itu hukum sopan santun masyarakat. Dokter harus memberi pelayanan istimewa pada pasien yang berpangkat. Menerima mertua hanya dengan menyuguhkan teh dianggap kurang ajar.

Tetapi Elisa abdi Allah itu tidak peduli dengan sopan santun itu. Jangankan bertemu berbicara dengan Naaman pun Elisa tidak berminat. Yang disuruh menyambut Naaman adalah seorang hamba. Letnan Jendral itu tidak diundang masuk rumah. Ia malah di suruh pergi ke sungai Yordan. Untuk mandi lagi. Naaman mengerti arti isyarat itu. Itu satu penghinaan besar untuk orang besar dan punya kuasa seperti dia. Di suruh mandi di Yordan artinya, tiga bintang di bahunya harus dilepaskan. Ia harus turun dari langit untuk masuk  ke dalam lumpur. Ia yang biasa memberi perintah harus tunduk pada perintah. Dan seperti kita tahu, jarang ada orang besar yang mau jadi pelayan. Kalau pura-pura jadi pelayan bisa saja, tetapi untuk benar-benar jadi pelayan susah sekali. Dan itu jelas dalam sikap Naaman. Marah karena tidak diperlakukan sesuai pangkat dan nama yang dia miliki, Naaman berpaling dan pergi dengan panas hati.

Padahal sesungguhnya sikap Elisa tidak salah. Ia konsekwen dengan aturan pentahiran. Menurut Imamat 13 seorang yang kena kusta harus dijauhi karena orang itu najis. Pastilah Elisa sudah sering menjauhi orang-orang kusta lain. Itu sebabnya ia juga tidak ingin bertemu Naaman. Pangkat dan kedudukan Naaman tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan kenajisan dirinya. Najis berarti najis. Tidak boleh dibedakan antara kenajisan rakyat biasa dan kenajisan jendral berbintang tiga. Jika pegawai honorer dipecat karena mencuri uang Rp. 25.000 di laci bendahara. Bupati juga harus dipaksa meletakan jabatan ketika dana proyek sengaja ditahan di bank agar bunganya masuk kantong. Kalau dosen menghukum siswa yang terlambat maka ia juga harus bersedia menerima hukuman jika ia terlambat masuk kelas. Manusia harus diperlakukan sama di hadapan hukum. Kejahatan adalah kejahatan apakah yang melakukannya adalah pegawai rendah ataukah pegawai esalon. Ini bertentangan dengan apa yang sering kita dengar. Kalau tukang ojek membunuh semua ramai-ramai bilang itu kejahatan. Pelakunya bertindak sangat kurang ajar. Sedangkan kalau tentara menembak mati rakyat komentar yang diberikan ialah itu kesalahan prosedur.  Tindakan itu agaknya kurang wajar. Allah menolak diskriminasi manusia karena pangkat atau jabatan. Dan itu ditunjukkan-Nya melalui sikap Elisa yang tidak keluar untuk berbasa-basi dengan Naaman.  

Allah adalah Bapa semua manusia. Ia tidak pernah mengutamakan seorang dan mengesampingkan yang lain. Ia mau supaya orang-orang yang percaya pada-Nya melakukan hal yang sama, mengasihi dan melayani semua orang tanpa pilih muka. Gereja dan orang-orang kristen harus memberi contoh. Yesus sendiri memberi contoh. Dari dua belas murid-Nya ada Lewi si pemunggut cukai yang bekerja bagi pemerintah penjajah Roma. Tetapi juga ada Simon orang Zelot yang membenci segala bentuk kerja sama dengan pemerintah penjajah Roma. Yesus tidak pilih muka waktu mengangkat murid-murid. Dia bahkan memilih Yudas sekalipun dia tahu bahwa kelak Yudas akan mengkhianati Dia. Ya!. Gereja dan orang kristen harus hidup dalam dunia sebagai yang memberi contoh. Di dalam dunia orang-orang percaya ada sebagai buah sulung dari panen raya yang akan menyusul. Marilah... kita tunjukkan satu bentuk persekutuan, hidup dan pelayanan yang adil dan merata bagi setiap orang tanpa memandang perbedaan status, jabatan, pangkat, nama dan harta. Jika dalam Gereja hal ini kita alami, berarti Gereja sedang hidup sebagai tanda dari persekutuan hidup yang kelak akan dinyatakan Allah pada kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali. 

Amin..!

 



[1]Cerita ini disarikan dari Cerpennya Jujur Prananto yang berjudul Paduan Suara yang dimuat dalam Kompas 27 Maret 1994.

Posting Komentar untuk "Bukan Karena Pangkat dan Uang 2 Raja-Raja 5:5 Renungan Harian"