Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Murid Yang Bukan Murid 2 Raja-Raja 5:19b-27

 

Murid Yang Bukan Murid 2 Raja-Raja 5:19b-27

 

Kejadian ini saya alami  5 tahun yang lalu, waktu saya masih mahasiswa (tahun 2017). Saya sedang menunggu angkot untuk pulang ke rumah. Waktu itu bulan suci Ramadhan. Jam tangan saya menunjukkan kira-kira pukul 19.45. Saya berdiri di jembatan Selam di samping seorang ibu yang sedang menjajakan kue-kue. Aroma jualannya membuat rasa lapar saya makin menjadi-jadi. Beberapa saat kemudian seorang laki-laki datang ke tempat ibu itu. Setelah berasalamu alaikum, ia menanyakan harga kue-kue itu. Ia mengambil beberapa potong dan menyantap kue itu dengan sangat lahap. Setelah itu ia membuka dompetnya. Menarik lembaran Rp. 5000.- dan menyerahkannya kepada ibu itu.

            “Masih kurang Rp. 3000.-” Kata penjaja kue itu.

            “Saya tidak punya uang lagi.” Jawab pemuda itu sambil melangkah pergi.

            Wanita tua itu mengeluh. Ia marah-marah sambil berkata: “Bajingan kau. Kau pasti bukan Islam. Kau pasti bukan Islam.”

Saya merenungkan apa yang dimaksud wanita tua itu. Islam artinya menyerahkan diri pada Allah. Seorang Islam adalah seorang yang menyerahkan diri sepenuhnya pada Allah dan hidup dari hukum-hukum Allah SAW. Mulanya, kata ibu tadi kepada orang muda itu membuat saya binggung. Saya yakin mereka sama-sama pemeluk agama Islam. Ini saya tahu bukan hanya karena mereka saling ber-asalamu alaikum. Saya juga kenal keduanya karena kami bertetangga RT. Tetapi segera sesudah ibu tadi menyumpah-nyumpah pemuda itu dan mengatakan bahwa ia bukan Islam saya menjadi ragu-ragu. Setelah lama merenungkan kata-kata ibu itu saya mengerti, tidak semua orang yang beragama Islam betul-betul menyerahkan diri pada Allah dan hidup menurut hukum-hukum Yang Mahakuasa. Beragama Islam tidak selalu jatuh sama dengan bertingkah laku sebagai seorang Islam. Hal ini berlaku juga bagi orang kristen. Tidak semua orang beragama kristen adalah murid Tuhan Yesus atau hidup menurut ajaran dan contoh yang ditunjukkan Yesus Kristus.

Sewaktu bekerja sebagai pendeta di pedalaman Timor Tengah Selatan (desa Oenay dan Boti), beberapa kali saya bertemu dengan pemimpin agama suku di Boti. Dia tetap memeluk agama nenek-moyang orang Timor dan sama sekali tidak berpikir untuk memeluk salah satu agama besar dunia, seperti Kristen, Islam, Hindu atau Budha. Alasan yang dia berikan ialah tidak semua orang beragama hidup sesuai ajaran agamanya. Bukti yang ia berikan sederhana saja. “Di penjara”, katanya, “ada banyak orang yang bernama Petrus, Simeon atau Christian, Abdulah, Haddijah, dst.” Pemimpin penyembah berhala ini benar. Memeluk satu agama bukan jaminan bahwa seseorang hidup sesuai dengan ajaran dan keyakinan agama itu.

Argumen kepala adat dan agama suku tadi benar. Kata-kata ibu penjual kue kepada pemuda yang hanya membayar setengah juga benar. Memeluk satu agama bukan merupakan jaminan bahwa orang akan hidup menurut ajaran agama itu. Soal ini juga yang kita temui dalam pembacaan hari ini. Menjadi anggota umat perjanjian, ditunjuk sebagai pelayan nabi Elisa merupakan penghormatan bagi Gehazi. Tetapi apakah itu berarti ia menyesuaikan hidup dan tingkah-lakunya dengan tuntutan Allah perjanjian merupakan hal yang masih perlu dipersoalkan. Seringkali orang-orang beragama melihat para penyembah berhala dengan penuh ejekkan. Para penyembah berhala dilihat sebagai orang yang hidup bertentangan dengan kehendak Allah. Sedangkan orang-orang yang beragama adalah para pelaku Firman Allah yang setia. Apa yang kita lihat dalam pembacaan hari ini menggugat pandangan umum tadi. Naaman, seorang kafir, pulang ke Siria dengan membawa dua karung tanah dari Israel. Dia ingin membuat mesbah bagi Tuhan Allah dengan tanah itu dan mempersembahkan korban kepada Yang Mahakuasa di atas mesbah itu, sementara Gihazi, warga umat perjanjian dan pelayan nabi Elisa, tidak tunduk pada kehendak Allah. Ia berlari mengejar Naaman dan meminta uang dan pakaian dari panglima Siria itu. Apa yang salah dari sikap Gehazi ini?

Kita harus memahaminya dari seluruh cerita. Secara sadar Naaman datang ke Israel dan menghadap Allah dengan membawa sejumlah besar harta benda. Ia mau membeli keselamatan. Ia sangka bahwa Allah Israel akan mata gelap setelah melihat harta yang begitu banyak. Ternyata Naaman salah. Kesembuhan hanya mungkin jika Naaman turun dari kereta kebesarannya, jika Naaman berpaling dari kekayaannya, jika ia hanya berharap sepenuhnya pada anugerah, jika ia menyangkal diri dan tunduk serta taat pada kehendak Yang Mahakuasa. Itu sebabnya Elisa menolak menerima apapun dari Naaman, sekalipun Naaman melakukan itu untuk menyatakan terima kasihnya. Naaman, orang kafir ini perlu disadarkan bahwa Allah Israel tidak ingin disembah hanya pada situasi darurat. Pangkat, kekayaan dan kemahsyuran sama sekali tidak ada hubungan dengan kasih Allah pada manusia. Kasih itu diberikan Allah secara cuma-cuma, tanpa jasa ataupun perbuatan baik manusia. Naaman mulai mengerti hal ini. Ia pulang dengan membawa dua karung tanah. Ia sadar bahwa ibadah dan iman bukan tempat untuk berlindung dari bahaya.

Sikap Elisa menolak persembahan Naaman yang luar biasa banyak itu bagi Gehazi adalah kebodohan. Gehazi tahu bahwa anugerah Allah tidak dapat dibeli, tetapi abdi Allah membutuhkan materi dan harta. Ia tahu bahwa sebagai pelayan Allah nabi harus hidup bergantung pada anugerah Allah. Tetapi tahu dan hidup sesuai dengan yang diketahui bagi Gehazia harus dibedakan. Di sini nampak dengan jelas bahwa berada dalam persekutuan umat perjanjian, menjadi murid abdi Allah berbeda dengan hidup sebagai umat perjanjian, hidup sebagai pelayan Firman Tuhan. Menjadi pendeta atau Majelis Jemaat bisa saja beda dengan hidup sebagai pendeta atau majelis jemaat. Saya kenal beberapa pendeta yang hidup sebagai pedagang atau aktif dalam politik. Itu bisa baik bisa juga jahat. Jahat, apabila uang dan pangkat yang mendorong dia alih profesi. Sebaliknya, jika ia berhasil menunjukkan sikap hidup kependetaan dalam perdagangan dan politik. Kita harus bersyukur memiliki pendeta yang mengelola CV atau jadi ketua partai politik. Hidup pendeta ini lebih memberi kesaksian dibanding pendeta yang tetap melayani jemaat tetapi memperlakukan jemaat sebagai obyek dagang atau lawan politiknya. Pada saat hal terakhir ini yang terjadi maka pendeta itu tidak lebih dari seorang Gehazi.

Saudara-saudara tahu siapa Gehazi? Dia adalah seorang murid yang bercabang hati. Hatinya sebagian untuk Allah sebagaian untuk Mamon. Ia tidak mau hidup hanya sebagai murid. Ia juga mau menjadi tuan. Dia melayani Allah tetapi dengan syarat. Gehazi tidak bisa menerima keputusan Elisa membiarkan harta dan kekayaan yang begitu banyak berlalu begitu saja. Gehazi percaya pada anugerah. Keselamatan tidak bisa dibeli tetapi nabi Allah pantas hidup berkecukupan. Apalagi kekayaan itu tidak diperoleh dengan jalan memeras. Gehazi mata gelap. Ia tidak lagi peduli dengan hidup yang menyerahkan diri pada Allah. Kekayaan itu harus direbut. Dengan mata berkaca-kaca ia berlari mengejar kereta Naaman yang hampir mendekati perbatasan Siria.

Gehazi kelihatannya hidup sebagai hamba Tuhan, tetapi dia sesungguhnya adalah budak harta dan kekayaan. Dan lihatlah! Ia berlari meninggalkan rumah tuannya, Abdi Allah itu untuk mengejar kereta Naaman yang membawa harta benda dalam jumlah besar. Ia terpikat pada harta yang begitu banyak. Statusnya sebagai murid hamba Tuhan diabaikannya. Gehazi tidak sampai hati membiarkan harta benda sebanyak itu hilang dari hadapannya.

Setelah kesembuhan Naaman, Gehazi seharusnya memuji-muji kebesaran anugerah Allah. Tetapi Gehazi tidak mempedulikan hal itu. Dia melihat hal yang lain, harta benda itu. Air liurnya mengalir melihat emas dan pakai-pakaian yang mahal. Setelah berpikir sebentar, setelah gurunya masuk ke kamar, berlarilah Gehazi menyusul rombongan Naaman. “Demi Tuhan yang hidup, sesungguhnya aku akan berlari mengejar dia dan akan menerima sesuatu dari padanya.” Demikianlah kata Gehazi dalam hatinya.

Dari jauh Naaman melihat ada orang yang menyusul dari belakang. Ia lalu memberi perintah menghentikan kereta. Selanjutnya ia turun mendapatkan orang yang berlari di belakangnya. Naaman menyambut orang yang tidak lain adalah Gehazi pelayan dari nabi Elisa yang sudah dikenalnya. Naaman bersukacita. Dia kembali bisa berkomunikasi dengan nabi dan Allah orang Israel.

            “Selamatkah engkau.” Tanya Naaman.

Pertanyaan ini dijawab dengan sopan. “Selamat tuanku!” Lalu menyusullah percakapan lain. Gehazi tidak berkata: “Tuan, memang nabi menolak pemberianmu. Tetapi seharusnya kau ingat pada pelayannya. Saya orang miskin dan hidup sangat menderita. Saya akan sangat berterima kasih jika mendapatkan sesuatu dari tuan.” Bukan kata-kata ini yang meluncur dari mulut Gehazi. Ia makin memperburuk kenyataan. Dia berdusta bahwa Elisa menyuruh dia. Dan dustanya memang sangat lihai. Dia katakan bahwa tanpa diduga datang dua anak nabi dari pegunungan Efraim di Samaria. Nabi ingin memberikan sesuatu kepada mereka.

Dusta itu membuat Naaman percaya. Tetapi dalam hatinya pasti timbul keragu-raguan mengenai anugerah bebas Allah. Keyakinan yang baru tumbuh dalam hati Naaman bahwa Allah Israel adalah Allah yang bekerja atas dasar kasih karunia dan bukan karena jasa serta merta gugur begitu Naaman mendengar bahwa Elisa meminta sesuatu darinya untuk diberikan kepada anak-anaknya. “Kasih dan keselamatan Allah bisa diperjual belikan.” Itulah kesan yang ada dalam hati Naaman. Dusta Gehazi telah menyebabkan tumbuhnya keraguan bahkan sangsi dalam diri Naaman bahwa Allah Israel adalah murah hati dan tidak menuntut balas.

Tentu saja Naaman senang mendengar itu. Ya. Allah Israel ternyata tidak beda dengan ilah-ilah. Tidak ada yang istimewa dari penyembahan kepada Allah umat perjanjian. Naaman boleh menyembah Dia sambil tetap memelihara praktek-praktek politik uang (money politics), sogok menyogok dan mengandalkan pangkat serta jabatan. Allah Israel ternyata bisa dibeli dan dibujuk dengan uang. Harta dan kebesaran dunia dapat membuat Allah memaafkan kejahatan-kejahatan terhadap sesama dan terhadap Allah. Dusta Gehazi mendatangkan efek yang sangat berbahaya dan hidup peribadahan dan pengenalan akan Allah.

Naaman turun dan memberikan kepada Gehazi apa yang ia minta. Sekarang Gehazi  menjadi kaya raya. Matanya bersinar-sinar melihat dua talenta perak, kira-kira 30 kg emas dan dua potong pakaian kebesaran. Banyak sekali. Gehazi tidak bisa membawa barang-barang itu seorang diri. Naaman memberikan dua orang pegawainya untuk menolong Gehazi mengangkut barang-barang itu ke tendanya. Gehazi berhasil meraih dua sukses sekaligus. Pertama dia menjadi kaya. Kedua sekarang dia menjadi tuan atas dua orang pelayan.

Tetapi sukses itu tidak berlangsung lama. Ketika dekat perkemahan Elisa Gehazi menyuruh kedua pelayan itu pulang. Apa yang Gehazi lakonkan tidak boleh diketahui tuannya. Elisa tidak boleh melihat dua orang itu. Ini akan membuat dustanya terbongkar. Diam-diam Gehazi masuk tenda dan menyembunyikan kekayaannya di bawah tempat tidur. Dan dia berhasil. Gehazi senang. Ia puas dengan hasil tipu dayanya dengan mempertaruhkan anugerah Tuhan dan jabatannya sebagai pelayan abdi Allah.

Dosa dibawa masuk ke rumah dan disembunyikan di kamar tidur. Itu kebiasaan setiap orang, termasuk saya dan saudara. Bagian yang gelap dan memalukan dari hidup kita tutup rapih-rapih di kamar tidur kita. Hal itu bisa berupa percakapan antara suami istri tentang sesama mereka atau rencana-rencana yang mereka buat untuk menghabisi karir orang-orang yang mereka benci. Oleh rasa gila harta, pangkat, jabatan dan hal-hal negatif yang ada di kolong langit tanpa peduli terhadap Tuhan yang ada di atas semuanya, Gehazi seorang anggota umat pilihan, pelayan dari abdi Allah menghalangi masuknya anugerah Allah dalam hati seorang penyembah berhala seperti Naaman.

Begitu juga yang sering dilakukan orang-orang percaya. Anugerah yang sudah mulai bekerja dalam hati orang-orang yang baru belajar kenal Allah kita lawan dengan cara menuntut para pentobat baru itu melakukan hal-hal yang berat, seperti harus memberi ini dan itu kepada Gereja, mengakui secara terbuka ini dan itu yang dulu dibuatnya. Orang-orang percaya sering bertindak seperti Gehazi terhadap orang-orang yang baru mulai belajar percaya pada Allah yang beranugerah. Mereka mengaku bahwa keselamatan mereka terima dari Allah secara cuma-cuma. Tetapi mereka tidak ingin memberitakan keselamatan itu kepada orang lain secara cuma-cuma. Sewaktu melayani di Oenay saya coba mendamaikan beberapa keluarga yang bersengketa. Mereka siap didamaikan, tetapi belum merasakan damai itu karena keluarga yang dianggap paling bersalah tidak memberikan apa-apa untuk memulihkan hati yang terluka. Kita mengaku menerima pengampunan dosa secara cuma-cuma dari Allah, tetapi berat bagi kita untuk mengampuni kesalahan orang lain dengan cuma-cuma pula.

Gehazi masuk dan tampil ke depan tuannya yang duduk di kamar tamu. Dia berbuat biasa-biasa saja. Memang dia pandai sekali bersandiwara. Elisa adalah pemberita Firman Allah. Gehazi berdiri di hadapannya sambil berpura-pura tidak terjadi hal-hal yang bertentangan dengan Firman Allah. Elisa memandang Gehazi. Ia melihat Gehazi yang sebenarnya dan bukan Gehazi yang sedang bersandiwara. Akhirnya setiap orang berdosa, cepat atau lambat harus berdiri di hadapan firman Allah. Waktu itu akan nyata apa yang kita buat sekalipun kita coba untuk menutupinya.

Gehazi, orang berdosa itu berdiri di hadapan Elisa. Orang berdosa di hadapan Firman Allah. Di sini keputusan harus diambil. Gehazi harus memilih. Di hadapan Allah tidak ada yang tersembunyi. Gehazi harus menentukan pilihan: melayani Allah atau mamon. Di situ tidak berlaku pilihan ketiga. Siapa yang akan Gehazi pilih? Allah atau setan? Apakah akan terjadi pertobatan dan penyesalan atau pengerasan hati?

“Dari mana Gehazi?” tanya Elisa. Firman Allah tidak mulai dengan tuduhan atau penolakan. Firman adalah anugerah Allah. Firman adalah panggilan kasih Allah kepada orang berdosa untuk keluar dari kegelapan hidupnya, untuk meninggalkan kejahatan yang dilakukannya. “Dari mana Gehazi?” Adam di manakah engkau?” Gehazi menolak panggilan kasih itu. Dia mengabaikan tangan Allah yang terulur untuk menyelamatkannya. Kembalilah ke jalan yang benar, Gehazi. Akuilah dosamu dan menyesallah. Mintalah pengampunan Allah, maka dosamu yang merah seperti kirmisi akan dicuci bersih, putih seperti salju.

Apa yang Gehazi pilih? Ia punya sedikit waktu saja. Dan dia mengeraskan hatinya. Dia tolak kasih dan pengampunan Allah. Dia tetap memainkan sandiwaranya. Berdusta dan menyangkal telah melakukan sesuatu yang jahat. Siapa di antara kita yang berani berkata seperti Gehazi: “Tuhan! Saya tidak pergi ke mana-mana. Saya selalu ada di sini untuk melayani-Mu?’ Betapa beraninya kita berdusta di hadapan Allah.

Allah mencari Gehazi. Tangan-Nya yang penuh belas kasihan tidak hanya diulurkan bagi orang kafir yang tinggi hati dan marah seperti Naaman, tetapi juga kepada Gehazi, seorang murid kebenaran yang bukan murid kebenaran. Tetapi murid ini menolak untuk dikasihani. Tangan Allah yang menawarkan pengampunan ia tolak. Gehazi memilih jalan kebinasaan. Dan ia menerima apa yang dia pilih. Kalau kita tidak membawa dosa kita pada terang Allah melalui perendahan diri dan pertobatan, maka Allah sendiri akan membawa dosa itu dalam terang.

Dengan singkat Elisa mengatakan bahwa ia tahu apa yang terjadi. “Bukankah hatiku ikut pergi, ketika orang itu turun dari atas keretanya mendapatkan engkau?” Bukankah ini adalah kesempatan, kata Elisa, untuk merebut hadiah itu dan untuk mewujudkan cita-citamu menjadi kaya raya? Bukankah kekayaan dunia membuat engkau melupakan semua bahkan nama Allah kau pakai untuk membenarkan cita-citamu?

Elisa lalu mengingatkan Gehazi bahwa Naaman datang ke Samaria bukan untuk membagi-bagikan hartanya. Ia datang untuk membebaskan diri dari penyakit kustanya. Kekayaan itu ia bawa untuk ditukar dengan kesembuhan. Dan karena Gehazi telah menerima kekayaan itu maka tidak bisa lain penyakit kusta Naaman harus juga ia terima. Maka keluarlah Gehazi dari hadapan Elisa dengan kena kusta. Kulitnya putih seperti salju.

Saudara-saudara yang berkumpul dalam nama Tuhan Yesus. Ini sebuah hukuman yang menggerikan. Saya pribadi pernah mengajukan protes. Bukankah yang Gehazi buat ini sangat manusiawi? Bukankah baik juga bagi para pelayan Firman untuk menikmati hasil-hasil yang baik dari dunia ini. Tidak bolehkah kita menggunakan kemudahan-kemudahan yang ditawarkan dunia? Bukankah hal-hal seperti itu perlu untuk kesaksian, pemberitaan dan pelayanan orang percaya serta Gereja?

Jemaat yang kekasih. Dosa tidak berhubungan dengan uang dan kekayaan. Dosa bersumber dari dalam hati. Uang dan kekayaan adalah pemberian Allah yang indah. Hanya bagi orang berdosa, mereka yang rakus, gila kuasa, gemar mengejar pangkat dan uang kekayaan itu sangat berbahaya. Sulit bagi seorang kaya untuk masuk dalam kerajaan surga. Terlalu sukar untuk menjadi kaya dan pada saat yang sama untuk berdiri di hadapan Allah sebagai seorang yang tidak punya apa-apa dan hanya berharap pada anugerah.

Kita juga lihat bahwa dalam kisah ini dosa bukan hanya soal keinginan hati yang jahat. Gehazi memperberat timbangannya dengan menambahkan dusta dan kekerasan hati. Ia tidak bertindak sebagai murid yang benar tetapi dengan diam-diam ia melawan pekerjaan kasih karunia Allah. Ia hidup dalam kasih karunia sebagai musuh dalam selimut. Ia tidak terang-terangan marah seperti Naaman. Ia menghianati kasih karunia itu dengan ciuman seperti yang dibuat Yudas. Kembali pada cerita di atas, pemuda yang membeli kue pada bibi tadi adalah Islam tetapi ia bukan Islam. Kalau ia seorang kristen ia pasti bukan murid Tuhan Yesus. Hal seperti ini bukan hanya terjadi 3000 tahun lalu. Sekarang juga, di sini, masih banyak kita temui orang-orang seperti Gehazi. Seorang murid yang bukan murid.

Tetapi kita bersyukur karena Allah tidak ingin kita terus ada sebagai murid yang bukan murid. Lewat pemberitaan Firman, ia memanggil kita untuk bangkit dari kehidupan yang indispiliner, untuk mulai lagi hidup sebagai a good disciple (murid yang benar). Roh Kudus siap menolong kita untuk menjadi murid Tuhan Yesus yang benar.

Amin!

 

Posting Komentar untuk "Murid Yang Bukan Murid 2 Raja-Raja 5:19b-27"