Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Naaman dan Pelayan Perempuan Istrinya 2 Raja-Raja 5:1-4 Renungan Harian

 

Naaman dan Pelayan Perempuan Istrinya

2 Raja-Raja 5:1-4

 

Pak Wongso berbaring lemah di tempat tidur. Dia tidak punya harapan lagi untuk hidup. Kanker ganas telah menghabiskan 1/3 paru-parunya. Dokter sudah menyerah. Keluarga juga pasrah. Memang masih ada kemungkinan dia ditolong. Paru-parunya bisa diganti dengan paru-paru yang sehat milik orang lain yang telah meninggal. Tapi untuk itu ia harus ke Jerman. Keluarganya mendengar penjelasan dokter sambil menahan napas. Untuk makan saja mereka sudah harus irit. Bagaimana mungkin mereka bisa menanggung biaya berobat di Jerman?

Minggu itu adalah minggu sengsara ke-6. Di tengah-tengah kesibukan mempersiapkan perayaan paskah, pendeta menyempatkan diri berkunjung di rumah sakit. Ketika ia tiba, istri dan anak-anaknya tidak bisa berbuat lain. Mereka hanya bisa menangis dan mengharapkan pendeta mendoakan mereka agar kuat menerima kenyataan ini. Pendeta sendiri tidak percaya kalau penyakit pak Wongso separah itu. Minggu lalu ia melihat pak Wongso ditemani istri dan anak-anaknya masih mengikuti kebaktian. Ia kelihatan sehat dan kuat. Teman-teman majelis jemaat bahkan berkata bahwa pak Wongso masih sempat berlatih nyanyian bersama koor gabungan untuk mengisi liturgi pada hari minggu perayaan Paskah nanti. Banyak orang tidak percaya bahwa hidup pak Wongso tidak dapat diperpanjang lagi, bahkan ia tidak bisa ikut merayakan perjamuan kudus yang tiga hari lagi akan diadakan. Tetapi kenyataan tidak dapat dibantah. Pak Wongso telah menghembuskan napas terakhir.

Pepatah lama mengatakan: “Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak.” Hari ini untung besok dapat susah. Tidak selalu kita sehat dan mengalami saat-saat penuh sukacita. Ada hari di mana kita sakit, mengalami kecelakaan dan merasa tidak berdaya sama sekali. Semuanya datang silih berganti. Pada satu kesempatan kita dalam kondisi fit. Tubuh kita kuat dan mampu menolak segala macam penyakit. Tapi sering tiba-tiba datang penyakit. Dalam satu kecelakaan yang tidak diduga, hidup seorang manusia dengan segera dapat berubah. Bagaimanapun kuat dan sehat hidup seseorang, dia tetaplah manusia yang tak berdaya. Dan tiap orang dengan cara berbeda akan berhadapan dengan persoalan-persoalan hidup yang mengetirkan. Ada yang dengan tiba-tiba kehilangan daya tahan tubuhnya, sakit dan untuk seterusnya tak berdaya. Orang lain, berangsur-angsur. Mulai dengan gagal dalam usaha, kehilangan gairah hidup dan seterusnya. Hal ini juga berlaku dalam hal keyakinan dan percaya diri. Kadang rasa percaya diri kita sangat kuat. Kita dapat melakukan apa saja, memecahkan soal-soal yang sulit. Tapi juga datang waktunya, kita tidak mampu berbuat apa-apa. Kita kalah dalam soal-soal kecil, karena rasa percaya diri kita hilang.

Dunia adalah tempat air mata. Ia selalu tidak bersahabat dengan hidup, apakah itu hidup satu manusia atau hidup satu masayarakt. Pepatah mengatakan: “Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh.” Tetapi yang namanya malapetaka atau penyakit tidak pernah mengenal rasa takut sekalipun yang diserangnya adalah satu masyarakat yang bersatu padu. Ada masa di mana masyarakat dalam satu negara hidup dalam kemakmuran, tapi juga akan tiba saat-saat krisis, kerusuhan dan perang yang meminta korban baik materi maupun jiwa.

Alkitab mengatakan bagi kita banyak hal, termasuk membantu kita untuk hidup dalam irama yang tak menentu ini. Alkitab tidak mengajar kita hidup yang bebas dari kemelut, tapi menolong kita menghadapi dan memenangkan kemelut itu. Ini juga yang kita temui dalam pembacaan hari ini. Naaman, panglima raja Siria, sedang dalam posisi puncak. Ia dikarunia jabatan dan memiliki kuasa besar, disanjung dan dihormati. Kita bisa bayangkan dia dengan tubuh tegap berdiri di atas kereta yang berjalan di dalam kota Damaskus. Ia tampak sehat dan perkasa. Sama sekali tidak ada tanda-tanda akan diserang penyakit. Makanannya penuh gizi dan sehat. Lingkungan hidupnya bersih. Karena itu ia tidak mungkin kena penyakit. Ia tipe ideal pemimpin saat itu. Cahaya hidup berpancar dari wajahnya. Tentu saja Naaman bangga dengan semua yang dimilikinya. Bahkan mungkin ia juga berpikir, tidak mungkin ia mati sekarang. Usianya masih muda, penuh vitalitas dan gairah.

Tetapi manusia, tetaplah manusia. Hidupnya bukan saja kebanggaan tetapi juga persoalan. Satu hari, waktu sedang mandi, Naamaan menemukan noda melekat di kulitnya. ‘Ah! Ini pasti karena kulit saya tidak cocok dengan sabun wangi yang dibeli istri saya.” Lalu, Naaman minta istrinya beli sabun mandi yang baru, yang bisa menghilangkan semua macam noda dari luar dan dari dalam. Naaman ganti sabun mandi. Meski begitu noda itu tidak segera hilang. Sebaliknya noda itu menjalar ke seluruh tubuh dan makin membesar, tidak bisa hilang meskipun dia sudah pakai sabun cuci rinzo yang dikenal punya daya bersih yang ampuh. Naaman menjadi sangat takut. Ia gemetar melihat noda di tubuhnya. Ternyata dia kena kusta, penyakit ganas yang tidak bisa disembuhkan. Penyakit yang dianggap sebagai kutuk oleh masyarakat waktu itu. Sebentar lagi ia akan diusir dari masyarakat. Sedikit waktu lagi, orang yang pernah mengelu-elukan dia akan lari menjauh sambil berteriak: najis! najis! Celakalah hidupnya. Cita-citanya, rencana masa depannya hancur berantakan. Ia bahkan sudah bisa melihat kematian sebelum dia mati. Ini sangat mengerikan.

Inilah ironi hidup manusia di bumi. Sejarah Naaman menggambarkan sejarah hidup kita. Naaman sangat dihormati dan dijunjung tinggi. Sangatlah besar kuasanya di Siria. Bahunya penuh bintang, harum dan semerbak namanya di seluruh negeri, tapi tokh dia sangat lemah dan tidak berdaya. Dirinya sangat buruk dan tercela. Sejarahnya sangat nista sehingga seorang budak yang paling hinapun di negeri itu merasa jijik menyentuh dirinya, apa lagi bertukar kulit dengan Naaman. Disanjung dan sekaligus diludahi itulah manusia yang diceritakan dalam Alkitab. Mazmur 8 menggambarkan manusia setara dengan Allah. Tetapi Mazmur 22:7 menyamakan manusia dengan ulat. Sejarah Naaman ada sejarah semua manusia di dunia.

Naaman dan Pelayan Perempuan Istrinya 2 Raja-Raja 5:1-4 Renungan Harian


Naaman terkenal dan termasyur, tetapi pada saat yang sama ia sakit kusta dan dicela orang. Sebuah bencana besar sedang menimpanya. Dan kisah ini tidak hanya mengenai seorang besar dan penting pada masa lalu. Ia juga terjadi pada manusia kemarin dan hari ini. Ini adalah kisah tentang anak manusia yang sedang memasuki masa penuh jaya, naik bintangnya, tetapi yang tiba-tiba oleh satu soal kecil seperti ditimpa noda, demam, pusing kepala ternyata adalah  awal dari satu malapetaka besar. Hidup yang penuh gairah secara mendadak diperhadapkan dengan kemelut. Maut datang menyerang ketika hidup sedang indah dan penuh gairah. Ini memang satu bencana bagi Naaman dan isi rumahnya. Setiap orang mengeluh. Anak istrinya meratap dan merontak. Hancurlah sudah kebanggaan dan masa depan keluarga.

Tapi ada seorang lain yang tidak ikut mengeluh. Dia seorang gadis kecil dari Israel, seorang tawanan yang dibawa Naaman pulang berperang untuk dijadikan pembantu rumah tangganya. Dia hanyalah seorang budak, manusia dari kasta terendah, dilupakan dan dicela siapa saja. Hidupnya bergantung sepenuhnya pada belas kasihan majikannya. Tanpa Naaman riwayat gadis itu mungkin sudah berakhir. Ini terbukti dari hal berikut. Gadis ini tidak punya nama diri. Dia seorang yang anonim. Ia hanya dikenal sebagai “pelayan istri Naaman.” Menarik bahwa dia tidak ikut berduka menghadapi bencana yang dihadapi majikannya.

Apakah ia bergembira dengan penyakit maksiat majikannya? Jelas tidak. Sama seperti para pelayan yang lain, gadis ini pasti terpukul dengan berita sedih itu. Tapi, ia tidak ikut mengeluh karena ia tahu cara mengatasi soal itu. Ia melihat ada cahaya memancar dalam kegelapan. Kalau majikannya dan seisi rumahnya memandang peristiwa itu dengan putus asa, dialah satu-satunya orang yang melihat harapan di balik malapetaka itu. Itu karena ia melihat sesuatu yang lain, ia kenal terang yang tidak dilihat dan dikenal teman-teman serumahnya. Ia melihat apa yang tidak dilihat orang lain. Sejalan dengan Ibrani 11:1-3 kita dapat berkata bahwa gadis ini memiliki iman. Iman adalah dasar dari semua yang kita harapkan dan bukti dari apa yang tidak kita lihat. Karena iman inilah, ia tidak ikut terombang-ambing dalam kemelut itu, karena iman menurut Ibrani 6:19 adalah sauh yang kokoh dan aman bagi jiwa. Penyakit tuannya adalah satu malapetaka, tetapi itu tidak lebih kuat dan berkuasa dari terang yang gadis itu kenal. Ia tahu bahwa penyakit, kematian, adalah serangan maut yang harus ditakuti. Itu adalah serbuan berbahaya dari maut terhadap hidup, tapi serbuan itu tidak lebih dari serangan-serang kecil yang tidak punya arti berhadapan dengan kuasa dari terang yang dia kenal. Itu sebabnya gadis kecil ini berkata: “Sekiranya tuanku menghadap nabi yang di Samaria itu, maka tentulah nabi itu akan menyembuhkan dia dari penyakitnya.”

Gadis kecil ini adalah seorang tawanan. Ia pasti sangat menderita sebagai budak di rumah tuannya. Anehnya, ia tidak mengutuk tuannya. Ia tidak mengharapkan kehancuran dan kebinasaan Naaman. Ia bertindak sebaliknya. Ia mengetahui cara mengatasi krisis dan penderitaan yang dialami majikannya. Ia tidak menyimpan pengetahuan itu. Ia tidak membalas air tuba dengan air tuba, tetapi membalas air tuba dengan air madu. Ia hanyalah seorang gadis kecil, tidak punya kecakapan yang dapat dibandingkan dengan kebesaran nama keluarga majikannya. Ia hanya seumpama sebatang lilin yang sedang menyala di dalam kegelapan malam. Terang yang diberikannya tidak cukup tetapi ia mampu memberikan arah bagi orang yang sedang terperangkap dalam gelap.

Demikianlah gadis kecil ini ada dalam rumah majikannya. Hati dan hidup semua orang dalam rumah majikannya tiba-tiba jadi gelap karena bencana itu. Dan dalam kegelapan tersebut gadis ini, imannya muncul seperti lilin yang menyala dan memberi cahaya, walaupun tidak seberapa besar. Ia tidak malu dengan cahaya yang dia miliki atau terang yang dipercayakan padanya. Meskipun cahaya yang dia terima kecil dan tak seberapa ia mempergunakan cahaya itu sebagai kesaksian. Ia tahu juga bahwa selama majikannya masih dalam posisi puncak, kesaksiannya tentang terang tidak mungkin didengarkan. Malah kesaksiannya akan ditertawakan. Karena itu ia tidak sembarang membuka mulutnya. Ia tidak ingin terang yang mendatangkan hidup dan yang adalah dasar dan sumber kehidupannya dicela dan ditertawakan orang hanya karena dihadirkan tidak pada waktu yang tepat. Sambil melayani dan mengabdi pada tuannya ia menunggu waktu yang tepat untuk memberi kesaksiannya tentang iman dan terang yang ia kenal.

Dan... kesempatan itu akhirnya datang. Waktu yang ditunggu-tunggu tiba. Dia berkata-kata dan didengar. Terang yang dikenalnya dibiarkan bercahaya. Bahkan sejak saat itu jalan cerita ini berubah 180 serajat. Yang menjadi tokoh utama bukan lagi Naaman atau istrinya tetapi gadis kecil ini. Kendali, peran dan kuasa dilucuti dari pembesar istana dan diserahkan kepada seorang pelayan rumah tangga. Naaman yang besar dan berkuasa terpaksa duduk mendengarkan pelayan perempuan istrinya, yang kecil dan tak punya kuasa.

Ini misteri dan keajaiban Injil. Berita tentang kerajaan Allah yang diproklamasikan Injil datang pada kita dalam bentuk sebuah benih yang kecil dan tidak berarti. Tetapi jika benih ini ditaburkan ke tanah, ia akan tumbuh menjadi pohon yang besar. Ketika benih ini tidak ditaburkan dengan hati-hati, ia akan dimakan oleh burung-burung. Penabur yang bijaksana tahu bagaimana membuat benih yang kecil itu menjadi pohon yang besar. Ia tidak akan sembarangan menabur benih itu, di jalan, di tanah yang berbatu atau yang banyak semak. Ia akan tunggu waktu yang tepat dan tanah yang subur untuk menabur benih itu. Dan hasilnya, luar biasa. Benih itu tumbuh jadi pohon yang besar yang memberi perlindungan bagi burung-burung di udara.

Injil datang pada kita dalam bentuk dan rupa yang kecil dan tidak menarik. Ia diberikan Allah dalam rupa seorang bayi tak berdaya yang lahir di kandang dan dibaringkan dalam palungan. Herodes dan kaiser Agustus kelihatannya lebih berkuasa dari Injil itu. Tetapi Injil yang kecil, tak berdaya dan tak menarik ini  mengandung kuasa dan daya kerja yang besar dalam diri orang-orang yang mendengar dan mempercayainya. Orang majus dari Timur Dia tarik untuk datang dan menyembah. Respons manusia terhadap pemberitaan Injil, yakni iman, juga adalah hal yang kecil dan sepele. Tetapi ia memiliki kuasa. Iman adalah sesuatu yang kecil tapi mampu melakukan hal besar. Yesus berkata: “Jika kamu memiliki iman sebesar sebiji sesawi, kamu dapat berkata kepada gunung ini enyahlah dan terbenamlah ke laut dan gunung itu akan tunduk padamu.” Gadis pelayan rumah Naaman tahu hal ini. Ia tahu bahwa iman yang ia miliki dapat menyembuhkan penyakit terkutuk majikannya. Iman seperti ini yang kita butuhkan dalam menyelesaikan persoalan-persoalan yang rumit baik itu persoalan pribadi, rumah tangga,  masyarakat bahkan juga Gereja.

Apakah iman itu? Ayat-ayat yang menyusul menunjukkan bagi kita bahwa iman tidak sama dengan hanya duduk diam, berdoa, menunggu Allah bertindak bagi kita. Sebaliknya, bertindak, melakukan sesuatu dalam ketaatan pada Firman Allah adalah bagian yang tidak dapat dilepaskan dari duduk diam dan berdoa. Iman artinya percaya pada Allah dan bertindak menurut kehendak Allah. Gadis kecil pelayan istri Naaman mempunyai iman. Itu dia buktikan dengan menyarankan Naaman datang kepada nabi Allah di Israel. Penderitaan hidup sebagai tawanan di negeri asing tidak membuat dia melupakan Tuhan Allah. Ia yakin akan kebesaran Allah dan melayani majikannya dalam ketaatan pada firman Allah. Iman seperti ini yang sekarang dituntut dari Naaman. Untuk mengatasi persoalan hidup yang dia alami, tidak cukup jika hanya istrinya dan gadis kecil pelayan istrinya yang punya iman. Naaman sendiri harus punya iman. Artinya dia harus melakukan sesuatu di dalam ketaatan pada Firman Allah. Soal yang dihadapi Naaman berpengaruh pada seisi rumahnya, bahkan juga pada seluruh negeri. Bukan hanya Naaman dan keluarganya saja yang harus punya iman. Seluruh istana kerajaan Aram harus satu hati, satu kata dan satu tindakan. Raja Aram, Naaman panglima perang negeri itu, dan pegawai-pegawainya diminta melakukan sesuatu dalam ketaatan pada Firman Allah. Tanpa kesatuan berpikir, berkata dan bertindak di dalam ketaatan malapetaka itu tidak akan dapat diatasi.

Dua hal diminta dari Naaman, keluarganya dan penguasa negeri itu: 1) Percaya pada Injil yang diberitakan gadis kecil pelayan istri Naaman. 2) Melakukan apa yang gadis kecil itu katakan. Dua hal diminta dari kita jika kita ingin menang dalam perjuangan melawan krisis kehidupan: pertama, percaya pada Allah yang disaksikan kepada kita oleh Alkitab, dan kedua hidup di dalam ketaatan pada kehendak Allah.

           

Tuhan memberkati kita! Amin.

 

Posting Komentar untuk "Naaman dan Pelayan Perempuan Istrinya 2 Raja-Raja 5:1-4 Renungan Harian"