Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Peralihan Yang Mengejutkan 2 Raja-Raja 5: 15-19 Renungan Harian Kristen

 

Peralihan Yang Mengejutkan 2 Raja-Raja 5: 15-19 Renungan Harian Kristen



Tujuh kali Naaman mencelupkan dirinya di sungai Yordan, lalu ia menjadi tahir. Naaman tidak percaya pada pengalaman ini. Ia sembuh begitu saja. Seringkali kita berpikir bahwa untuk pulih dari satu keadaan yang mengerikkan perlu pula upaya dan pengorbanan yang besar. Harus melalui seremoni dan pamer kesaktian yang luar biasa. Naaman juga berpikir begitu. Orang besar hanya suka melakukan hal-hal besar. Itu sebabnya Naaman merasa sangat terhina, karena dia yang adalah orang besar disuruh melakukan hal-hal yang kecil dan sepeleh. Tapi hidup di dalam ketaatan pada Allah mempunyai hukum yang lain. Semua orang sama. Orang-orang besar harus pula melakukan pekerjaan-pekerjaan kecil. Allah tidak meminta Naaman pergi ke Mesir untuk membeli seribu ton rempah-rempah bagi mumi. Ini hal besar. Dan karena dirinya orang besar Naaman pasti bisa melakukannya.

Hal sederhana saja yang Allah minta dari dia: mandi tujuh kali di sungai Yordan. Ini hal kecil. Orang besar seperti Naaman sering merasa jijik dan terhina untuk melakukan hal itu. Tetapi justru itu yang Allah kehendaki dari Naaman. Saya kira dengan cara ini Allah ingin mengingatkan Naaman pada dua hal. Pertama, sebagai orang besar Naaman tidak boleh melupakan atau menganggap hina hal-hal kecil, sebab ia menjadi orang besar karena dia mulai dengan melakukan hal-hal kecil itu dan ia menjadi orang besar untuk menjamin kelestarian hal-hal kecil. Kedua, Allah ingin mengingatkan Naaman bahwa yang dianggap kecil atau besar oleh manusia berbeda dengan pandangan Allah. Naaman merasa lebih terhormat jika disuruh mandi di sungai Abana atau Parpar. Mandi di sungai Yordan adalah penghinaan. Pandangan Naaman berbeda dengan pandangan Allah. Apa yang oleh Naaman dianggap kecil dan hina oleh Allah dinilai besar dan terhormat.

Falsafah hidup dalam kerajaan Allah berbanding terbalik dengan falsafah hidup manusia. Perbandingan ini bisa diumpamakan dengan perbedaan antara foto dan negatifnya. Kalau di fotonya berwarna putih di negatifnya hitam atau di negatifnya putih di foto pasti hitam. Oleh dunia orang kaya dalam perumpamaan tentang Lazarus dianggap sebagai orang besar, sedangkan Lazarus disamakan saja dengan anjing. Tetapi Allah membalik hal itu. Dari perumpamaan itu yang pantas duduk dipangkuan bapak Abraham adalah Lazarus, sementara orang kaya tadi justru mengerang dalam neraka yang bernyala-nyala. Cerita penyembuhan Naaman menjadi lampu merah bagi kita untuk tidak menganggap kecil dan hina hal-hal yang dicela dan diabaikan oleh dunia. Kalau dunia mengukur nilai manusia dengan pangkat, jabatan, kuasa dan kekayaan, Allah mengukur nilai manusia dengan standar yang lain, yakni ketaatan pada Firman.

Naaman sembuh setelah tujuh kali mencelupkan diri di sungai Yordan. Ada orang yang coba memberi penjelasan mengenai kesembuhan Naaman. Penjelasan itu berhubungan dengan angka tujuh. Naaman sembuh setelah tujuh kali mencuci dirinya dengan air. Dalam Alkitab air dianggap sebagai unsur pembersih. Dengan mencelupkan diri dalam sungai Yordan Naaman membersihkan diri dari dosa-dosanya. Dosa Naaman ada tujuh. Pertama, ia membunuh orang dalam peperangan. Kedua, ia menangkap dan membawa seorang gadis dari Israel dan menjadikan gadis itu pelayan di rumahnya. Ketiga, ia menyembah berhala. Keempat, ia datang berkolusi dengan raja Aram dan memaksa raja Israel menyembuhkan penyakitnya dengan surat sakti yang ia bawa. Kelima, ia ingin membeli kesembuhan dengan uang dan kekayaan. Keenam, ia sombong dengan pangkat yang dimilikinya dan menganggap tidak pantas jika hanya disambut oleh orang suruhan Elisa. Ketujuh, Ia buru-buru mengambil kesimpulan dan marah terhadap nabi. Naaman sembuh setelah ia membersihkan diri dari ketujuh dosa ini dengan jalan mencuci dirinya tujuh kali. Penjelasan ini saya dengar waktu masih SMP ketika saya aktif menghadiri ibadah kelompok kharismatik.

Apakah penjelasan ini benar sulit sekali diterima. Penjelasan ini mengandaikan bahwa Allah berkerja berdasar pada prestasi manusia. Dosa lebih kuat dari anugerah Allah. Jika dosa tidak dibersihkan anugerah tidak dapat kita terima. Saya ingat sewaktu masih di SMA, tetangga saya meninggal. Selama sakit banyak orang datang untuk berdoa bagi kesembuhannya. Si sakit diminta mengakui dosa-dosanya sebab hanya dengan itu dia bisa memperoleh kesembuhan. Si sakit taat. Apa saja yang pernah dilakukannya diceritakan. Tidak ada satupun yang ia sembunyikan. Tetapi dia tidak sembuh. Juga setelah dibawa ke rumah sakit, ia tidak tertolong. Akhirnya ia mati. Orang-orang yang mendoakan dia bercerita ke sana sini: “Masih ada satu dosa yang tidak dia akui. Itu sebabnya dia meninggal.” Saya sedih sekali mendengar kata-kata itu. Kasih Allah ternyata sangat lemah. Kasih itu tidak berdaya berhadapan dengan dosa orang itu.

Alasan kedua menolak penjelasan ini berhubungan dengan pemahaman tentang dosa. Dosa dianggap sama dengan apa yang manusia buat. Tetapi pandangan ini justru keliru. Menurut Alkitab dosa lebih dari sekedar apa yang manusia buat. Dosa jauh lebih dalam maknanya dari sikap hidup manusia. Dosa adalah manusia itu sendiri. Manusia berbuat dosa karena manusia itu sendiri adalah orang berdosa. Karena manusia adalah orang berdosa maka dia melakukan dosa. Karena memahami dosa hanya sebatas apa yang manusia buat, akibatnya ialah dosa bisa dihitung. Dosa Naaman hanya tujuh. Akh... itu tidak mungkin. Penjelasan ini sama sekali tidak bisa kita terima.

Ada lagi penjelasan lain. Naaman sembuh setelah membenamkan diri tujuh kali. Membenamkan diri adalah simbol perendahan diri di hadapan Allah. Artinya, orang itu tunduk dan mengaku bahwa hanya Allah saja yang adalah Tuhan dan dirinya sama sekali tidak berarti. Tujuh kali Naaman tunduk di hadapan Allah sebagai hamba terhadap Tuannya. Angka tujuh menunjuk pada tujuh hari dalam satu minggu. Untuk sembuh dari sakit, untuk bebas dari persoalan hidup, Naaman harus menunjukkan ketaatannya kepada Allah tujuh hari dalam satu minggu.

Penjelasan ini lebih masuk akal. Orang percaya memang harus hidup dalam ketaatan pada Allah tujuh hari dalam seminggu. Tetapi apakah penjelasan ini dapat kita terima, tetap merupakan persoalan. Mertua laki-laki saya meninggal dunia setelah sakit selama enam bulan. Selama enam minggu kami berlibur di Indonesia, setiap malam dia selalu mengajak kami berdoa bagi dia. Tujuh hari dalam  seminggu ia menyerahkan diri pada Allah, tetapi Allah tidak menyembuhkan dia.  Sebaliknya, Allah memanggil dia pulang, setelah sakit sekian lama.

Saya kira sebaiknya kita tidak perlu memberi penjelasan apa artinya tujuh kali mencelupkan diri dalam air. Allah tentu bisa menyembuhkan Naaman tanpa menyuruh dia mandi tujuh kali. Kita sebaiknya terima hal itu sebagai fakta. Naaman sembuh setelah tujuh kali mandi di sungai Yordan. Itu saja. Yang perlu kita perhatikan adalah reaksi Naaman setelah sembuh dan tanggapan Elisa. Tadinya, Naaman marah-marah. Ia pergi dengan panas hati dari rumah Elisa. Sekarang ia datang menemui Elisa dengan rasa syukur. Bahkan ia turun dari keretanya. Elisa yang tadinya engan menjumpai Naaman sekarang keluar dan berbicara dengan dia. Alasan Naaman tidak lagi marah dan panas hati jelas. Dia sekarang mengerti bahwa yang Allah perlukan bukan kekayaan dan kuasa, tetapi ketaatan. Hubungan manusia dengan Allah ditandai dengan ketaatan. Allah tidak dapat dibujuk dengan pangkat atau uang. Ia hanya bisa ditemui dalam doa dan penyerahan diri. Allah harus disembah dalam ketaatan secara sukarela. Itu sebabnya Allah melalui nabi-Nya menolak bertemu dengan Naaman ketika ia masih menonjolkan pangkat dan hartanya. Naaman harus datang pada Allah bukan sebagai tuan besar, tetapi sebagai manusia yang tidak mengandalkan apa-apa selain kemurahan Allah. Pada pihak lain Elisa yang pada pertemuan pertama menolak menerima Naaman, keluar mendapatkan Naaman. Itu karena pada waktu itu Naaman datang bukan sebagai hamba yang menyerahkan diri pada Allah, melainkan sebagai pedagang yang ingin membeli kuasa Allah. Naaman yang sekarang adalah Naaman yang baru, bukan hanya karena ia sudah tahir tetapi juga karena ia sudah dapat menyangkal diri dan mengikuti kehendak Allah.

Sikap Elisa ini mencontohkan satu kebenaran iman yang sangat penting. Allah baru dapat dijumpai apabila kita mencari Dia di dalam ketaatan. Selama kita mencari Allah sekedar untuk memenuhi kepentingan-kepentingan kita, Ia akan menyembunyikan diri-Nya. “Allah itu Roh. Dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam Roh dan kebenaran.” (Yoh. 4:24). Penegasan ini berlaku juga bagi sifat-sifat Allah yang lain. Misalnya Kasih. Allah adalah kasih. Dan barangsiapa menyembah Dia harus menyembah-Nya dalam kasih. Allah adalah adil. Dan barangsiapa menyembah Dia harus menyembah-Nya dalam keadilan. Allah adalah lemah lembut dan murah hati. Dan barangsiapa menyembah Dia harus menyembah-Nya dalam kelemah lembutan dan kemurahan hati. Begitu selanjutnya. Jika kita menyembah Allah yang adil itu, tetapi kita membenci keadilan bukan Allah yang kita sembah melainkan keinginan kita. Kalau sikap kita kepada sesama kasar, bermusuhan dan di luar batas-batas kemanusiaan, yang kita sembah dalam ibadah dan doa-doa kita bukan Allah melainkan berhala. Jika benar demikian banyak orang percaya termasuk saya masih selalu menyembah berhala, melakukan syirik. Saya sesungguhnya orang kafir yang memakai baju orang percaya.

Ada sepuluh orang kusta yang ditahirkan Yesus, tetapi hanya satu orang yang kembali untuk menyatakan terima kasihnya. Orang itu seorang penduduk Samaria yang dianggap kafir oleh orang Yahudi. Sikap ini sangat dipuji oleh Yesus. Kusta yang melekat di tubuh Naaman hanyut terbawa air. Dia bangun, keluar dari sungai Yordan, naik ke atas keretanya dan kembali kepada Elisa untuk menyatakan terima kasihnya. Seorang kafir menyatakan syukurnya kepada Allah. Elisa keluar mendapatkan dia. Naaman juga turun dari keretanya. Kecongkakan dan egoismenya sudah ditaklukkan oleh kemahakuasaan Allah. Dari marah dan panas hati terhadap Elisa, Naaman berubah menjadi taat dan penuh syukur. Hanya Allah saja yang dapat mengadakan perubahan ini. Allah yang membuat seseorang yang pergi dengan kecewa dari tempat hamba-Nya tinggal berbalik kembali dengan penyesalan dan keputusan untuk taat.

Naaman datang kepada Elisa dengan pengakuan dan persembahan. Sekarang ia tahu bahwa di seluruh dunia hanya ada satu Allah, yakni Allah yang disembah di Israel. Dan sejak saat itu ia hanya akan beribadah kepada Allah saja. Untuk menunjukkan kesungguhannya, ia meminta izin Elisa untuk membawa dua karung berisi tanah dari Israel. Di atas tanah dari karung yang satu ia akan berdiri untuk berseru kepada Yang Mahakuasa dan tanah dari karung lain ia akan dirikan mesbah untuk berdoa. Permintaan ini aneh tetapi dapat dimengerti. Sebentar lagi Naaman akan kembali ke Siria. Lingkungan hidupnya di sana sama sekali tidak mengenal Allah Israel. Hanya ia sendiri dan isi rumahnya yang akan beribadah pada Allah. Bahaya untuk jatuh kembali dalam penyembahan berhala sangat besar. Ia minta tanah itu untuk mengingatkan dia pada tekadnya. Dua karung tanah ini menjadi semacam “bait Allah” bagi Naaman di tempat yang jauh dari Bait Allah Yerusalem. Kita bisa samakan hal itu dengan ‘kamar doa’ yang dimaksudkan Yesus tempat kita berbicara secara pribadi dengan Allah (Mt. 6:6). Kita memang perlu menciptakan satu ‘bilik’ di tempat kerja kita; bilik yang mengingatkan kita pada janji kita pada Allah pada saat kita mengambil keputusan untuk menerima Dia sebagai Tuhan hidup kita. Saudara-saudara kita kaum Muslim sepakat untuk menjadikan suara Azan yang lima kali sehari itu menjadi sebagai ‘bilik’ untuk mereka berdoa. Akan sangat tidak wajar bagi orang kristen jika mereka hanya menunggu lonceng Gereja yang hanya berbunyi seminggu sekali. Yesus dan para rasul tidak menggariskan berapa kali dalam sehari orang kristen harus berdoa. Ini tidak berarti bahwa orang kristen tidak perlu mencari tempat untuk bertemu dan berbicara dengan Allah selama Senin sampai Sabtu. Kita harus mencari dan menemukan ‘bilik doa’ itu bagi kita.

Antara ayat 17 dan 18 terjadi satu peralihan yang mengejutkan. Baru saja Naaman bicara tentang kesungguhannya untuk beribadah hanya pada Allah saja. Lalu dengan tiba-tiba ia meminta izin untuk melakukan kompromi-kompromi. Sudah pasti ia akan selalu menemani rajanya ke mana saja, juga ke dalam kuil Rimon. Bila raja tunduk menyembah patung Rimon, mau tidak mau Naaman harus ikut berlutut. Ia harus menyembah Rimon demi sopan santun. Ibadahnya pada Rimon hanya dari luar. Hatinya tetap bagi Allah Israel. Permintaan ini lahir dari ketakutan kehilangan jabatan dan nama. Naaman minta konsesi. Satu hal yang tidak mungkin diizinkan oleh Yesus. Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan sekaligus (Luk. 16:13). Dalam kitab-kitab Injil, Yesus sama sekali tidak ingin berkompromi dengan orang-orang yang mau mengikut Dia tetapi minta izin untuk menguburkan orang tuanya. Memutuskan untuk ikut Tuhan tetapi minta maaf karena tidak bisa melepaskan diri secara total dari satu macam dosa artinya tidak layak ikut Tuhan. Orang harus memilih ikut Tuhan atau tinggal dalam dosa. Ikut Tuhan plus minta izin berbuat dosa sama sekali tidak mungkin. Kita terkejut karena Elisa sama sekali tidak memberi reaksi atas konsesi ini. Ia malah memberkati perjalanan pulang Naaman. Seorang yang baru bertobat harus diperlakukan secara lembut dan sabar.

Naaman datang dengan membawa persembahan. Ia sudah merasakan kuasa dan kemurahan Allah. Sekarang ia ingin menyatakan syukurnya dengan memberi persembahan kepada Elisa. Ia tidak bermaksud membeli kasih setia Allah. Yang ia buat ialah menyatakan terima kasihnya kepada abdi Allah itu. Heran... Elisa menolak persembahan itu. Ia miskin tetapi tidak sedikitpun tergoda untuk menerima persembahan Naaman. Dengan mengangkat sumpah, ia mengatakan keberatannya untuk menerima tanda syukur Naaman dalam rupa persembahan itu. Ada dua alasan. Pertama, Elisa ingin menunjukkan kepada Naaman bahwa Allah Israel beda dengan ilah-ilah. Ia adalah Allah yang menghendaki diri dan hidup manusia sebagai persembahan dan bukan sekedar uang. Kedua, Elia ingin menunjukkan kepada raja Israel bahwa ia meminta Naaman dikirim kepadanya bukan karena menginginkan persembahan yang Naaman bawa, tetapi murni menunjukkan kuasa Allah kepada panglima Siria itu. Sikap Elisa ini cocok dengan kata-katanya. Kita perlu belajar dari Elisa dalam hal ini: menyesuaikan kata-kata dengan perbuatan. Orang baru akan percaya pada apa yang kita katakan dan saksikan jika hidup dan perilaku kita berjalan berdampingan dengan tutur kata dan ucapan mulut kita.

Amin.

 

Posting Komentar untuk "Peralihan Yang Mengejutkan 2 Raja-Raja 5: 15-19 Renungan Harian Kristen"