HUKUM TABUR TUAI - 2 Korintus 9 : 1 - 6
Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga. ( II Korintus 9:6)
Seorang pemuda sedang menunggu motornya reparasi di
bengkel, dan di kejauhan seorang lelaki tua kumal menenteng gitar. Pemuda itu
lari mengejarnya dan memberikan uang 2000 rupiah. Dia bercerita bahwa sang
bapak sering mengamen di perumahannya dan berjalan kaki beberapa kilo
mengelilingi sebagian kota. Kemurahan hati bisa dilakukan siapapun tanpa
melihat latar belakang sosial ekonomi, pendidikan, dll.
Memberi menurut pola pikir manusia dan ketentuan Tuhan
memang berbeda. Pada umumnya orang berpikir memberi itu lebih terhormat
daripada menerima, memberi jika sudah berkecukupan, memberi itu pada orang yang
lebih kekurangan, dll. Dari bacaan kita diatas, ada beberapa pelajaran perihal
memberi yang perlu kita perhatikan, percayai, dan taati sbb:
Proporsi (ay 6) “…Orang yang menabur sedikit, akan menuai
sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga,” Kita
harus memberi dalam proporsi yang makin besar seberapapun penghasilan kita.
Jumlah pemberian “tidak diperdulikan” Tuhan, proporsi itu yang dilihat Tuhan
seperti persembahan 2 peser janda miskin.
Perasaan (ay 7 ) “… memberikan menurut kerelaan hatinya,
... dengan sukacita.” Hanya hati yang rela dan bersukacita yang diperkenan
Tuhan.
Perjanjian (ay 8-10 ) . Pertama, “Allah sanggup
melimpahkan segala kasih karunia … berkecukupan … dan malah berkelebihan di
dalam pelbagai kebajikan.” Kedua, “Ia yang ... akan menyediakan benih bagi kamu
dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu.
Perspektif (ay 11-15). “kamu akan diperkaya dalam segala
macam kemurahan hati, yang membangkitkan syukur kepada Allah ... sedangkan di
dalam doa mereka, mereka juga merindukan kamu ... Syukur kepada Allah karena
karunia-Nya yang tak terkatakan itu!
Taat untuk memberi sebenarnya membawa kita dalam lingkup
karunia Allah yang tak terkatakan. Ada banyak keuntungan ketika kita
mentaatinya, yaitu pekerjaan Allah melalui kita terlaksana dan banyak orang
menaikkan rasa syukur. Betapa indahnya memberi, akankah kita menunda atau
menguranginya? Jangan sampai kita kehilangan berkat dan sukacita ketika salah
mengelola berkat Tuhan. Memberi merupakan bagian dari mata rantai sarana
pendewasaan iman kita. Mari kita lakukan dalam pimpinan Tuhan.
Memberi adalah pengalaman iman berupa tindakan secara materiil (uang, barang) maupun non materiil (memberi pujian, penghargaan, semangat, dorongan, pengetahuan, dll).
Posting Komentar untuk "HUKUM TABUR TUAI - 2 Korintus 9 : 1 - 6"
Berkomentar yg membangun dan memberkati.